Lebih Bahagia Dari Yang Dibahagiakan

Dikisahkan ada seorang murid dan ustadz sedang jalan pulang dari berilmu.

Mereka melewati jalan pinggir pematang sawah. Sang Murid melihat ada sepasang sepatu yang tergeletak di pinggir jalan dan dia memiliki ide untuk membahagiakan sang Ustadz.

Murid : “Ustadz saya ingin membuatmu tertawa sehingga dirimu bahagia.”

Ustadz : “Oh.. ada apa gerangan muridku? ”

Murid : “Aku lihat sepasang sepatu milik petani di sana tertinggal, aku ingin mengambil sebelah kirinya saja. Kemudian kita sembunyi, lalu lihat reaksi petani itu dari kejauhan. Pasti lucu.. Dan saya yakin anda akan tertawa, tentunya anda akan bahagia”.

Ustadz : “Muridku, sungguh mulia keinginanmu membahagiakan aku. Tetapi, janganlah kau buat kesulitan orang lain menjadi caramu meraih kebahagian.”

Kemudian sang Ustadz mengambil uang dari sakunya dan memberikan kepada muridnya.

Ustadz : “Aku punya ide bagaimana jika kau letakan uang ini ke dalam sela-sela sepatunya. Kemudian kita bersembunyi dan lihat reaksi petani itu dari kejauhan.”

Murid : “Baik Ustadz.”

Setelah itu mereka berdua sembunyi dan menunggu untuk mengetahui reaksi sang petani.

Tidak beberapa lama sang Petani kembali dari sawah kemudian ingin memakai sepatunya. Petani bingung karena dia mendapatkan sepatunya berisi uang yang lumayan banyak. Kemudian dia melihat keadaan sekitar, kondisinya tidak ada orang di sekitar. Kemudian seketika petani itu bersimpuh dan menangis.

Petani : ” Ya Allah.. Ya Rozzaq..Segala Puji hanyalah milikMu. Terima kasih Kau ijabah doaku, Kau berikan rezeki melebihi kebutuhan ku. Saat ini istriku membutuhkannya untuk berobat dan anakku membutuhkannya untuk bersekolah. Bahkan Kau berikan lagi sisanya untuk makan selama sebulan. Sudah dua hari ini kami tidak makan. Terima kasih Yaa Robb”

Kemudian petani itu pulang ke rumah dengan riang gembira untuk mengunjungi keluarganya.

Kemudian kembali kepada kisah Ustadz dan Muridnya.

Ustadz : “Bagaimana perasaanmu muridku, bukankah saat ini kau berbahagia?”

Murid : “Sungguh ustadz, aku sungguh lebih berbahagia dibandingkan petani itu. Jika saja Allah mentakdirkanku untuk pulang tidak bersamamu. Aku pasti melakukan keinginanku untuk menyembunyikan sepatu petani itu.. Pasti hanya aku yang akan berbahagia tetapi sang Petani sungguhlah dia amat bersedih karena deritanya bertambah karena diriku.”

Ustadz : “Alhamdulillah dirimu memahaminya, sesungguhnya untuk membahagiakan orang lain dibutuhkan pengorbanan. Tetapi kebahagiaan setelahnya jauh lebih membayar dari pengorbananmu.”

Selesailah kisah ini.

🌿Saudaraku, apakah diantara kita masih ingin berbahagia dengan menyulitkan orang lain?🌿

Wallahu ‘Alam

************************

Selamat Sore & Selamat Beraktifitas 🙏🙏
Salam Diatas Pelangi

Sumber: Internet.
Artikel ini didukung oleh: Alatkantor.net.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *