Cara Mengendalikan Pengeluaran

Lutut Anda lemas saat melihat saldo tabungan dan tagihan dari bank. Tabungan Anda kian menipis. Anda baru saja menikah, tapi pengeluaran Anda sudah tak terkendali. Apakah pasangan Anda penyebabnya? Belum tentu! Pikirkan hal ini bersama-sama dan cari tahu mengapa kalian bisa mengalami situasi sulit ini. *

Mengapa Itu Bisa Terjadi??

1. Masa penyesuaian. Jika sebelum menikah Anda tinggal bersama orang tua, bisa jadi Anda belum terbiasa membayar tagihan dan ikut menanggung pengeluaran lainnya. Atau, Anda dan pasangan mungkin punya cara yang berbeda dalam mengelola uang. Misalnya, yang satu mungkin cenderung boros sedangkan yang lainnya lebih suka berhemat. Suami istri butuh waktu untuk menyesuaikan diri dan sepakat soal caranya mengelola uang.

2. Sikap suka menunda-nunda. Contoh: Dedi, kini pengusaha sukses, ia mengakui bahwa ketika baru menikah, ia tidak bisa mengatur uang dengan baik dan ia harus menanggung akibatnya. ”Karena saya suka menunda bayar tagihan,” katanya, ”kami akhirnya harus bayar denda puluhan juta rupiah. Uang kami habis!”

Ada Pepatah yang mengatakan bahwa:  Bagaikan rumput liar di pekarangan, utang yang dibiarkan pasti akan bertumbuh, dan terus bertumbuh.

3. Jerat berbelanja tanpa uang tunai. Pengeluaran bisa tak terkendali kalau kita tidak melihat langsung uang keluar dari dompet atau tas kita. Itu bisa terjadi kalau Anda sering membayar dan berbelanja dengan kartu kredit atau debit, Internet, dan electronic banking. Mudahnya meminjam uang juga bisa membuat pasangan yang baru menikah terus dan terus berbelanja.

Apa pun penyebabnya, uang bisa menimbulkan problem serius dalam perkawinan Anda. ”Banyak suami istri melaporkan bahwa problem utama mereka adalah UANG, tidak soal seberapa banyak yang mereka miliki,” kata buku Fighting for Your Marriage. ”Uang sering menjadi penyebab pertengkaran.”

Lalu, Apa Yang Anda Bisa Lakukan??

a. Bekerjasamalah. Daripada saling menyalahkan, bekerjasamalah untuk mengendalikan pengeluaran. Sejak awal, buatlah kesepakatan dengan pasangan Anda bahwa kalian tidak akan bertengkar soal uang.

b. Buatlah anggaran. Tulislah semua pengeluaran kalian selama satu bulan, meskipun hanya sedikit. Itu akan membantu kalian mengetahui untuk apa saja uang digunakan dan melacak pengeluaran yang tidak perlu. ”Kita harus menutup kebocoran,” kata Dedi yang dikutip sebelumnya.

Buatlah daftar pengeluaran pokok kalian, seperti makanan, pakaian, uang sewa atau cicilan rumah, kredit mobil, dan seterusnya. Tuliskan berapa dana yang dibutuhkan untuk setiap kategori, sehingga kalian tahu berapa banyak pengeluaran yang harus dibayar dalam suatu jangka waktu, misalnya satu bulan.

Setiap bulan, sisihkanlah dana untuk tiap-tiap kategori pengeluaran (makanan, uang sewa, bahan bakar, dan seterusnya). Beberapa orang memasukkan uangnya ke dalam amplop-amplop, satu amplop untuk setiap kategori. * Jika uang dalam satu amplop habis, mereka tidak akan belanja lagi untuk kategori itu atau memakai uang dari amplop lainnya.

c. Periksa pandangan Anda tentang barang-barang. Kebahagiaan tidak bergantung pada memiliki barang-barang terbaru. ”Hidup manusia tidak tergantung dari kekayaannya, walaupun hartanya berlimpah-limpah.”  Apakah Anda mempercayai kata-kata itu? Hal itu bisa terlihat dari kebiasaan berbelanja Anda.

d. Buatlah penyesuaian. ”Berlangganan TV kabel dan makan di restoran awalnya bisa jadi terjangkau, tapi untuk jangka panjang itu semua bisa menguras dompet,” kata Dede, yang sudah dua tahun menikah. ”Kami harus belajar bilang tidak untuk beberapa hal agar tidak “besar pasak daripada tiang.”

Alangkah beruntungnya bagi ia yang mencukupkan dirinya dengan kehidupan yang sederhana dan bersikap qana’ah (merasa cukup dengan apa yang dimilikinya dan menjauhkan diri dari sifat ketidakpuasan / kekurangan).

Selamat Pagi dan Selamat Beraktifitas 🙏🙏
Salam Diatas Pelangi

Sumber: Internet.
Artikel ini didukung oleh: Kotakpensil.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *